Senin, 26 Oktober 2009

SYEKH AL JAZULI: PEJUANG DAN PEMBAHARU TAREKAT DARI MAROKO
Pengirim:
Nama lengkap, keturunan dan masa kecilnya.
Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Abdurahman bin Abu Bakar bin Sulaeman bin Said bin Ya'la bin Yakhlaf bin Musa bin Ali bin yusuf bin Isa bin Abdullah bin Jandur bin Abdurahman bin Muammad bin Ahmad bin HAsan bin Ismai;l bin Ja'far bin Abdullah al kamil bin hasan al Mutsana bin al Hasan Al sabt bin Ali bin Abi Talib RA. Sementara al Jazuli adalah nisbat kepada tempat kelahirannya kampung suku Barbar, Jazulah. Beliau adalah seorang ulama, wali yang maha agung lagi mulia yang telah sampai kepada batas makrifat dan mukasyafah. Dengan kesalehannya seolah Allah menghendaki bahwa ia lahir dan hidup untuk menjadi pembimbing ummat dan pendamping hamba-Nya dalam menghadapi kehidupan, sehingga mereka dapat kembali kepada jalan Allah SWT. Karena itulah sebanyak dua belas ribu enam ratus enam puluh lima pengikut setianya senantiasa mengikuti jejak dan amaliyahnya. Mereka inilah yang kemudian menyebar keseantero wilayah maghrib untuk menyebarkan dakwahnya, mengajak manusia kembali kepada Allah SWT.
Masa kecilnya dihabiskan untuk belajar di madrasah Sofarin di kota Fes Maroko. Dan ketika belajar di Fes ia memiliki kamar khsusus yang tidak boleh seorang-pun masuk tanpa seizinnya, termasuk orang tuanya sendiri. Suatu hari ayahnya datang untuk membawakan bekal dan setelah terlebih dahulu meminta izin barulah diperbolehkan masuk. Betapa terkejutnya sang ayah dengan apa yang dilakukan anaknya, ia menemukan dinding-dinding kamarnya tertulis kata: mati, mati, mati. Namun ayahnya langsung paham dengan apa yang sedang terjadi dengan anaknya, kholwat mensucikan diri dengan mengigat kematian. Sehingga sang ayah tersadar dengan dirinya dan merasa malu dengan apa yang dilakukan anaknya, Al Jazuli. Dengan rasa malu, maka bergegaslah ia meninggalkan Fes untuk kembali kekampung halaman.Menyusun kitab Dalail al Kaherat.
Disebutkan bahwa ia menyusun kitab Dalail al Khaerat, ketika belajar di Fes Maroko dari perpustakaan Masjid Al Qurawiin Fes. Juga diriwayatkan bahwa yang mendorong dirinya menyusun kitab Dalail al Khaerat, adalah karena bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki kehebatan spiritual, Khariq al Adat, atau karomah yang luar biasa. Kemudian ia bertanya: Dengan apa engkau bisa sampai kepada kemuliaan itu? Perempuan itu menjawab: "dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW". Maka, sejak itulah ia selalu memperbanyak membaca sholawat hingga akhirnya membukukan bacaan-bacaan sholawatnya yang kita kenal sekarang dengan nama Dalail al Khaerat. Sehingga akhirnya bacaan sholawat ini menjadi ciri khas tarekat Al Jazuliyah yang didirikannya.
Dan diantara kelebihannya lagi adalah kemampuannya menggabungkan cintanya kepada Rasulullah SAW dengan memperbanyak sholawat dengan cintanya kepada gurunya yang kebanyakan dari kalangan asrof atau Habaib. Dengan demikian, maka dalam tarekat Jazuliayh terdapat dua kekuatan cinta sehingga mampu mengangkat derajat para pengikutnya.
Maka, tidak heran kalau kemudian kitab Dalail al Khaerat banyak mendapat sambutan dari para pencari tuhan, karena termasuk resep yang ringan dan aman untuk mewujudkan cita-cita banyak orang awam, mendekatkan diri kepada Allah, dengan mencintai dan mengagungkan kekasih-Nya. Itulah karomah beliau. Padahal pada masa yang sama banyak beredar buku-buku sholawat yang disusun ulama-ulama Maroko sebelum dan sesudah Al Jazuli, tapi kurang mendapatkan tanggapan masyarakat. Sampai pengarang kitab Tuhfat al ikhwan memberikan komentar: "cukuplah karya ini untuk menunjukan kehebatan dan keagungan penulisnya, karena karya itu lahir dari kebersihan jiwa dan kejujuran cinta penulisnya kepada Rasulullah SAW. Inkonsistensi teks Dalail al Kaherat.
Banyak orang menggugat kehadiran kitab Dalail al Khaerat karena di dalamnya banyak mengandung kesalahan tarkib baik nahwiyah maupun sorfiyah. Seperti :وصل على محمد عدد علمك، وقوله: عدد ما أحاط به علمك وأضعاف ذلك. وقوله: كنت حيث كنت.
Teks seperti itu banyak digugat orang untuk menyudutkan Al Jazuli. Namun kemudian hal itu dijelaskan oleh Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Razaq Al Ustmani, bahwa ia pernah bertanya soal itu kepada gurunya, Yusuf bin Muhammad al Fasi, kemuadian ia menjelaskan: "Betul adaanya dalam Dalail al Kaherat terdapat beberap teks yang tidak sesuai dengan kaidah lughowiyah, nahwiayh dan sorfiyah (seperti di atas). Tapi semua itu bisa dibenarkan karena apa yang ada dalam kitab Dalail adalah ungkapan cinta yang mendalam yang diucapkan dengan perasaan hati yang menjerit dan merintih karena rindu yang sangat menggebu-gebu. Sehingga kesalahan bahasa dalam bab ini diperbolehkan (bagi mereka).
Namun demikian Dalail al Kaherat tetaplah sebuah do'a yang manjur jika dibaca secara konsisten. Diceritakan ada tulisan Syekh Abu Abdullah al Arabi pada kulit kitab Dalail yang berbunyi: "Sebagian ulama fikih menyatakan bahwa sebagaian daripada do'a yang mustajab untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita dan menghilangkan kesusahan yang kita hadapi adalah dengan membaca Dalail empat puluh kali dan harus khatam sebelum empat puluh hari. Maka, insyaAllah segala tujuannya akan terkabul berkat syafaat Rasulullah SAW".
Bahakn lebih daripada itu kitab Dalail menarik minat banyak ulama masyriq dan maghrib (barat dan timur) untuk mengomentarinya (syarah) sehingga menurut catalog perpustakaan besar Rabat terdapat lebih dari dua belas kitab syarah (komentar) Dalail al Kaherat dan semuanya masih dalam bentuk manuskrip, kecuali Matali al Musirrat karya Mahdi Al Fasi. Itu semua menunjukan kehebatan dan kesuksesan Al Jazuli untuk menghimpun ulama-ulama dari belahan dunia untuk bersatu dalam satu wadah pemikiran dan sikap, Al Jazuliyah, dengan konsep cinta dan kasih sayang dalam membangun masyarakat dan mengembalikan kemanusiaan yang telah hancur akibat dunia dan dosa.
Kesuksesan dan kebesaran Al Jazuli belum berakhir sampai disitu, karena tarekat yang didirikannya ternyata berkembang menjadi tarekat-tarekat lain yang besar dan diikuti oleh ribuan bahkan jutaan orang di Arab dan lainnya. Itu juga sebuah keberhasilan dakwahnya dalam menyatukan golongan yang berbeda dalam satu rasa cinta dan saling meyayangi. Dan yang paling monumental adalah keberhasilannya memperbaharui dan mengembangkan tarekat Sadziliyah dan melahirkan tarekat Al Jazuliyah yang kemudian berkembang menjadi beberapa tarekat. Diantara tarekat-tarekat yang lahir dari Al Jazuliyah:
Al Isawiyah: didirikan oleh Abu Abdullah bin Isa al Mukhtari murid dari Abu Abbas Ahmad al Kharitsi al Maknisi, murid al Jazuli. Tarekatnya berkembang sampai ke Libya.
Al Wazaniyah: didirikan oleh Moulya Abdullah al Syarif al wazani.
An Nasiriyah: didirikan oleh Muhammad bin Nasir al Dar'i Anasiri.
Dan tarekat lainnya yang didirikan oleh para murid dan pengikut tarekat-tarekat tersebut.
Dengan tarekat-tarekat itu berarti Al Jazuli, putra barbar yang cerdas itu, telah mampu memberikan konstribusi besar bagi persatuan, kerukunan dan pegembangan pendidikan berbasis ahlak dan amal saleh. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kitab syarah (komentar) atas Dalail al Khaerat dengan corak dan bentuk yang berbeda. Sehingga kehadiranyya tercatat sebagai awal kebangkitan kaum tarekat dalam meraih kemerdekaan Maroko dari penjajah Pranscis dan Spanyol. Yang kemudian dilanjutkan oleh para tokoh dan ulama tarekat lainnya.
Dan Al Jazuli termasuk satu dari tujuh wali Maroko yang memiliki peran besar dalam meraih kemerdekaan dan kebangkitan Maroko. Dan berikut nama-nama wali tujuh Maroko yang lain:
Qadi iyad (wafat 544H) ia adalah grand ulama Maroko beraliran Malikiyah, Sehingga ada istilah " Seandainya tidak ada Qadi Iyad, maka Maroko tidak akan dikenal.
Abu al Qasim Abdurahman al Suhaeli (wafat 581H), ia buta semenjak usia tujuh belas tahun, ahli fikih, tafsir dan bahasa Arab, hadist, ilmu kalam dan usul Fiqh.
Yusuf bin Ali al Sonhaji (wafat 593H), walaupun tidak banyak meninggalkan karya seperti kedua pengahulunya, tapi ia terkenal dengan sifat sabarnya dalam mengahdapi cobaan penyakit kusta yang dideritanya.
Abu Abbas al Asebti (wafat 601H), tokoh penting dalam perjalanan Islam di Maroko dan Barat Islam.
Al Jazuli (seperti kami jelaskan)
Abdul Aziz bin Abdul Haq Attaba' (wafat 914H), tidak banyak sumber yang menjelaskan kehidupannya.
Abdullah bin 'Ajjal al Ghazwani (wafat 935H)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar